18 Feb 2012

Salah Sangka Pada Kayu Lapuk

Pagi ini tak ada yang berbeda dengan pagi sebelumnya, udara dingin tetap menjadi nuansa pagi, begitulah sekiranya yang aku rasakan dan mungkin juga sapi, kambing, ayam dan angsa juga merasakan denginnya pagi ini. Cahaya mentari sayup-sayup menerpa tanah basah oleh embum pagi, sejuk memang jika dibandingkan kota. Kicau Murai bisa didengar berirama, lagu penyemangat awali hari. Orang-orang bertopi tani siap berdo'a ditanah mereka, menjaga padi dari burung-burung yang bertopang hidup, namun pak tani tak rela berbagi. Pedagang makanan kecilpun telah menunjukkan kesiapan dagangannya, sarapan lontong dan pical siap di jajakan ke pembeli. Dengan Rp. 3000, sudah bisa menikmati salah satu menu sarapan ini. Manusia kekarpun tak mau kalah, mereka siap jalani hari, membawa sepiring nasi dari rumah menuju sungai, dengan kulit yang telah mengeluh diterpa matahari, namun manusia kekar tetap tak peduli, meraut pasir di sungai, mengumpulkan batu-batu yang nantinya akan dijual kepada orang yang membutuhkan. Betapa beratnya hari yang dijalani manusia kekar, namun senyum kecil mereka tak pernah hilang, tak pernah hilang.

Begitu aku gambarkan kampung halaman, latar kehidupan masa kecil, tempat tertawa 19 tahun yang lalu. Sangat indah menyaksikan asrinya, menghilangkan sesak sejenak. Aku sudah berada 2 hari disini, kampung halaman yang menyimpan semua kenangan indah, saksi perjalanan hidup, dari kakek buyut terus berlanjut ke generasi ku dan pasti akan berjalan kegenerasi setelah aku nanti. Termasuk rumah besar yang renta, kian reot hari ke hari ini, tempat kelaurga Abu Nazar berteduh. Abu Nazar adalah kakek ku, dan bisa dibilang ini adalah rumah ku sekarang. Ia yang memdirikan rumah megah ini dahulunya, tapi kini tak lagi, sudah ada gaya menimalis disisi kiri dan kanannya, menjadikan rumah ini semakin kusam, bukan klasic tapi sudah benar-benar usang. Kalau clasic masih bisa di bilang unik, tapi rumah ini tiang-tiang penyanganya sudah keropos, lantainya yang terbuat dari kayu sudah di jilati rayap tiap-tiap ruas. lantainya berderik walau anak 2 tahun merangkak di atasnya, apa lagi aku, dengan bobot 80 kg, beberapa kali lebih berat dari anak yang baru bisa merangkak, bisa-bisa ambruk. Sehingga clasic menjadi terpinggirkan dan digantian oleh kata usang, atau mungkin bisa dibilang clasic tapi sudah usang. Namun kedengarannya tak wajar. Kalau usang ya usang aja tidak usah pakai klasic segala.

21 Jan 2012

Fase Hidup

waktu yang selalu mengalir
Hidup adalah perjalanan waktu. Dari kecil hingga besar dan kini menjadi tua semuanya mengalir dalam ruang waktu. Tidak ada seorang pun yang benar-benar merasakan aliran waktu didunia ini. Setiap orang akan melalui irama waktunya tersendiri. Irama waktu tersebut adalah Fase. 

Ketika dalam kandungan, cabang bayi memdapatkan makanan dari ibunya melalui talipusar. Sari-sari makanan akan ditranfer setiap saat sesuai waktu dan kebutuhan cabang bayi tersebut. Tidak akan pernah terpikir oleh cabang bayi untuk menangis didalam kandungan apa lagi bermain seperti bayi yang beberapa hari lahir. Ini memang sudah menjadi fase untuk cabang bayi.

Setelah  umur kandungan cukup barulah cabang bayi akan keluar dari rahim ibunya. Menjadi seorang bayi yang masih berkulit merah. Sesesaat setelah itu bayi akan menangis. Bayi akan tumbuh menjadi lebih dewasa sesuai waktunya. Bayi menjadi anak-anak -- Anak-anak menjadi remaja -- Remaja menjadi dewasa -- Dewasa menjadi tua -- Tua dan meninggal dunia.

20 Jan 2012

Sandal dan Parkir

Masalah besar tentu terlihat jelas oleh mata, disembunyikan bagaimanapun juga, pasti akan terlihat. Bagaimana dengan hal kecil yang kasat mata ? butuh bantuan mikroskop kah kita untuk melihat, butuh lebih dari itu untuk bisa melihat. Masalah kecil sering tidak diaangap. Lalu apa buruknya bagi "something" yang tidak di anggap -- tidak diperhatikan --dilupakan begitu saja.

Saya punya dua hal unik yang akan dibahas. Keduanya adalah hal kecil, masalah kecil. Pertama "SANDAL", kedua "PARKIR". Teman-taman pasti akan bertanya,  ada apa sih dengan kedua hal ini ?.  Ada hal aneh yang telah terjadi di negeri kita ini. Banyak sekali kasus sandal hilang. Tidak bisa menyangkal, masalah ini bisa teman-teman temukan dilingkungan teman-teman sendiri. Biasanya ini terjadi di tempat-tempat umum, seperti mesjid dan sebagainya.

Acap kali orang-orang kehilangan sandal dimesjid. Sandal bagus dan jelek pun menjadi sasaran. Sehingga ini mengganggu kenyamanan orang-orang dalam beribadah. Ada apa sih sebenarnya ? masa sandal jepit juga di colong, ngak ada kerjaan tuh tukang colong, sandal jepit aja di mbat, apalagi yang bagusan dikit.

Teman-teman semua pasti akan sangat kesal jika sandalnya yang menjadi target. Mending kalau rumahnya dekat, kalau jauhan dikit, kan malu juga nyeker pulangnya -- alias ngak pakai sandal -- kasihan amat. Jika sudah begini, apakah teman akan laporkan kepolisi. Saya yakin dan percaya jarang-jarang ada orang yang mau laporin masalah ini ke pokpol (pak poisi). Orang yang kemalingan motor aja masih antri minta keadilan, boro-boro pakpol ngurus maling sandal.

8 Jan 2012

Jomblo Itu Aku

Malu ya ngak punya pacar, atau ngiri sama teman yang punya pacar,,
malam minggu mau ngapain sih, pergi sama teman,, kalau tidak ada teman yang mau diajak gimana ?

semuanya merupakan pertanyaan yang beterbangan didalam pikiran jomblowers (para jomblo), menjadi unek-unek setiap hari, dan kelamaan menjadi beban. Disini kena ejek, disana juga kena ejek. wah parah banget deh jika status loe jomblo.

jalan sama cewek dikit,, orang lansung katain, "ciehhhhh, cewek baru ya, kenalin dong". sebenarnya sih mau bilang tu cewek gue, tapi mau gemana lagi, ngak enak donk kalau gue bohong, takut dosa,, (maklum tamatan pesantren cuy).

jadi ingat pesantren nih,, jadi mau cerita tentang pesantren. boleh kan,, Dulu waktu dipesantren, waktu untuk dekat sama cewek tu susah amat, paling-paling cuma ketemu dimesjid, atau di kelas. Selain itu, mungkin sebuah keajaiban yang membuat saya atau teman-teman yang lain bisa bertemu santri wati,,,, susah amat dehhhh, benar-benar susah.


5 Jan 2012

Rasa

Berjalan sehari dan bertemu senyum itu
dibalut jilbab gelap, matanya berbinar
kini ku tahu yang kulihat
Gadis lugu berkulit putih
melepas senyum dicelah mata
tersimpuh malu, menolehkan muka

Aku berjalan dan menepi
melihat nasib diuntaian keberuntungan
wajah itu terlihat lagi
duduk bercerita dan ku sapa
-aku berkenalan
-melihat mata itu
-sedikit gugup dan tetap bercerita
masih menikmati suasana hati
dan ini awal mula cerita


Satria chandra