Pagi ini tak ada yang berbeda dengan pagi sebelumnya, udara dingin tetap menjadi nuansa pagi, begitulah sekiranya yang aku rasakan dan mungkin juga sapi, kambing, ayam dan angsa juga merasakan denginnya pagi ini. Cahaya mentari sayup-sayup menerpa tanah basah oleh embum pagi, sejuk memang jika dibandingkan kota. Kicau Murai bisa didengar berirama, lagu penyemangat awali hari. Orang-orang bertopi tani siap berdo'a ditanah mereka, menjaga padi dari burung-burung yang bertopang hidup, namun pak tani tak rela berbagi. Pedagang makanan kecilpun telah menunjukkan kesiapan dagangannya, sarapan lontong dan pical siap di jajakan ke pembeli. Dengan Rp. 3000, sudah bisa menikmati salah satu menu sarapan ini. Manusia kekarpun tak mau kalah, mereka siap jalani hari, membawa sepiring nasi dari rumah menuju sungai, dengan kulit yang telah mengeluh diterpa matahari, namun manusia kekar tetap tak peduli, meraut pasir di sungai, mengumpulkan batu-batu yang nantinya akan dijual kepada orang yang membutuhkan. Betapa beratnya hari yang dijalani manusia kekar, namun senyum kecil mereka tak pernah hilang, tak pernah hilang.
Begitu aku gambarkan kampung halaman, latar kehidupan masa kecil, tempat tertawa 19 tahun yang lalu. Sangat indah menyaksikan asrinya, menghilangkan sesak sejenak. Aku sudah berada 2 hari disini, kampung halaman yang menyimpan semua kenangan indah, saksi perjalanan hidup, dari kakek buyut terus berlanjut ke generasi ku dan pasti akan berjalan kegenerasi setelah aku nanti. Termasuk rumah besar yang renta, kian reot hari ke hari ini, tempat kelaurga Abu Nazar berteduh. Abu Nazar adalah kakek ku, dan bisa dibilang ini adalah rumah ku sekarang. Ia yang memdirikan rumah megah ini dahulunya, tapi kini tak lagi, sudah ada gaya menimalis disisi kiri dan kanannya, menjadikan rumah ini semakin kusam, bukan klasic tapi sudah benar-benar usang. Kalau clasic masih bisa di bilang unik, tapi rumah ini tiang-tiang penyanganya sudah keropos, lantainya yang terbuat dari kayu sudah di jilati rayap tiap-tiap ruas. lantainya berderik walau anak 2 tahun merangkak di atasnya, apa lagi aku, dengan bobot 80 kg, beberapa kali lebih berat dari anak yang baru bisa merangkak, bisa-bisa ambruk. Sehingga clasic menjadi terpinggirkan dan digantian oleh kata usang, atau mungkin bisa dibilang clasic tapi sudah usang. Namun kedengarannya tak wajar. Kalau usang ya usang aja tidak usah pakai klasic segala.
Begitu aku gambarkan kampung halaman, latar kehidupan masa kecil, tempat tertawa 19 tahun yang lalu. Sangat indah menyaksikan asrinya, menghilangkan sesak sejenak. Aku sudah berada 2 hari disini, kampung halaman yang menyimpan semua kenangan indah, saksi perjalanan hidup, dari kakek buyut terus berlanjut ke generasi ku dan pasti akan berjalan kegenerasi setelah aku nanti. Termasuk rumah besar yang renta, kian reot hari ke hari ini, tempat kelaurga Abu Nazar berteduh. Abu Nazar adalah kakek ku, dan bisa dibilang ini adalah rumah ku sekarang. Ia yang memdirikan rumah megah ini dahulunya, tapi kini tak lagi, sudah ada gaya menimalis disisi kiri dan kanannya, menjadikan rumah ini semakin kusam, bukan klasic tapi sudah benar-benar usang. Kalau clasic masih bisa di bilang unik, tapi rumah ini tiang-tiang penyanganya sudah keropos, lantainya yang terbuat dari kayu sudah di jilati rayap tiap-tiap ruas. lantainya berderik walau anak 2 tahun merangkak di atasnya, apa lagi aku, dengan bobot 80 kg, beberapa kali lebih berat dari anak yang baru bisa merangkak, bisa-bisa ambruk. Sehingga clasic menjadi terpinggirkan dan digantian oleh kata usang, atau mungkin bisa dibilang clasic tapi sudah usang. Namun kedengarannya tak wajar. Kalau usang ya usang aja tidak usah pakai klasic segala.