Pagi ini tak ada yang berbeda dengan pagi sebelumnya, udara dingin tetap menjadi nuansa pagi, begitulah sekiranya yang aku rasakan dan mungkin juga sapi, kambing, ayam dan angsa juga merasakan denginnya pagi ini. Cahaya mentari sayup-sayup menerpa tanah basah oleh embum pagi, sejuk memang jika dibandingkan kota. Kicau Murai bisa didengar berirama, lagu penyemangat awali hari. Orang-orang bertopi tani siap berdo'a ditanah mereka, menjaga padi dari burung-burung yang bertopang hidup, namun pak tani tak rela berbagi. Pedagang makanan kecilpun telah menunjukkan kesiapan dagangannya, sarapan lontong dan pical siap di jajakan ke pembeli. Dengan Rp. 3000, sudah bisa menikmati salah satu menu sarapan ini. Manusia kekarpun tak mau kalah, mereka siap jalani hari, membawa sepiring nasi dari rumah menuju sungai, dengan kulit yang telah mengeluh diterpa matahari, namun manusia kekar tetap tak peduli, meraut pasir di sungai, mengumpulkan batu-batu yang nantinya akan dijual kepada orang yang membutuhkan. Betapa beratnya hari yang dijalani manusia kekar, namun senyum kecil mereka tak pernah hilang, tak pernah hilang.
Begitu aku gambarkan kampung halaman, latar kehidupan masa kecil, tempat tertawa 19 tahun yang lalu. Sangat indah menyaksikan asrinya, menghilangkan sesak sejenak. Aku sudah berada 2 hari disini, kampung halaman yang menyimpan semua kenangan indah, saksi perjalanan hidup, dari kakek buyut terus berlanjut ke generasi ku dan pasti akan berjalan kegenerasi setelah aku nanti. Termasuk rumah besar yang renta, kian reot hari ke hari ini, tempat kelaurga Abu Nazar berteduh. Abu Nazar adalah kakek ku, dan bisa dibilang ini adalah rumah ku sekarang. Ia yang memdirikan rumah megah ini dahulunya, tapi kini tak lagi, sudah ada gaya menimalis disisi kiri dan kanannya, menjadikan rumah ini semakin kusam, bukan klasic tapi sudah benar-benar usang. Kalau clasic masih bisa di bilang unik, tapi rumah ini tiang-tiang penyanganya sudah keropos, lantainya yang terbuat dari kayu sudah di jilati rayap tiap-tiap ruas. lantainya berderik walau anak 2 tahun merangkak di atasnya, apa lagi aku, dengan bobot 80 kg, beberapa kali lebih berat dari anak yang baru bisa merangkak, bisa-bisa ambruk. Sehingga clasic menjadi terpinggirkan dan digantian oleh kata usang, atau mungkin bisa dibilang clasic tapi sudah usang. Namun kedengarannya tak wajar. Kalau usang ya usang aja tidak usah pakai klasic segala.
Sekarang sebuah rencana menjadi musuh besar kayu-kayu lapuk rumah ini. Bagaimana tidak, ayahku ingin merehabilitasi rumah besar ini. Rumah yang semula 2 tingkat, akan dipotong atasnya, menjadi satu tingkat. Panjangnya pun di perpendek, menjadi setengah kali panjang semula. Sepertinya ayah menjadi diktator yang siap memangsa kayu lapuk ini. Mungkin si kayu merasa jengkel terhadap rencana ayah. kejengkelan sikayu berbuah manis, tiba-tiba nenek ku menolak mentah-mentah rencana ayah. Nenek berguman, bahwa gaya dari rumah ini harus dipertahankan. Dan lebih parahnya lagi, nenek melontarkan kalimat dari negeri antah berantah di otaknya, dan ini tidak pertama kalinya nenek selisih paham dengan ayah.
"kayu ni sudah jauh lebih tua dari pada kau. Hormati yang lebih tua, jangan dulukan ego. Sering kali lah aku menegur kau. Elok-elok lah tingkah laku, dan jangan kau anggap aku pikun. Badan boleh lah tampak tua, pikiran tak lah. Pikiran tetep dewasa”
Lagi-lagi si nenek memulai petaka. Punya gaya sendiri lah mereka jika telah begini situasinya. Lihat kalimat sakti itu. Kalimat yang cerdik untuk memulai petaka.Kalimat sakti yang membuat ayah tak bisa berguming, diam terpaku. Seperti kalimat itu menjadi jeruji besi empat persegi disekelilingnya, lalu jeruji ini mengecil dan mendesak pikiran ayah, mencekik, menyebabkan ayah hilang kata-kata. Tiba-tiba nenek kembali menyelipkan sepatah kalimat, lagi-lagi bernuansa tajam.
"Kalau kau mau cantik kan rumah ni, gunakan cara ku. Perhatikan apa mertua mu ini suka apa ndak. Kalau aku tak suka hasil kerja mu, rugi kali kau kerja. Akan ku rubuhkan lagi rumah ni. Jadi hati-hati lah dalam merubah kayu tua ini, jadikan ia tampak menarik bagi ku".
Setelah kata itu melayang, nenek pergi. Kata-kata membungkam hati, bak anak panah yang tapat dilesatkan ke jantung ayah.
Ayah mulai berkompromi dengan otaknya, mengolah kalimat yang dilesatkan nenek mengenai kayu lapuk. Satu persatu kata yang meyusun kalimat tadi mulai di pelitelir. Di analisa berbasih tinggi, setinggi kemampuan ayah. Keningnya berkerut, sudah pasti saraf-saraf orak ayah mencoba bersinergi dengan saraf-saraf yang lain untuk memecahkan kede-kode, namum kalimat yang bermuara kayu lapuk tadi tak kunjung di percahkan. Hilang nian juga tidak akal si ayah. Namum gaya nenek yang seperti itu memang jarang tampak. Baru kali ini lah sekiranya aku melihat kalimat semacam itu. Wajarlah kalimat itu bak anak panah yang melesat ke jantung.
Dua hari sudah pertarungan dengan judul perang kayu lapuk, namun kerutan kening ayah tak jua hilang. Sepertinya ia kehabisan akal, untuk mengsiasati si nenek. Maklum, semua bahan untuk merehabilatasi rumah sudah disiapkan ayah. Tidak hanya bahan, rancangan rumah sudah dilukis, dilukis oleh seorang temannya, Anton. Anton adalah seorang insinyur, tamatan terbaik jurusan teknik sipil universitas andalas. Gambar rancangan rumah tersebut tentu sangat bernilai, didapat dari darah persahabatan, tidak bisa diukur dengan uang, atau apa saja lah.
Seketika, ayah teringat dengan gambar rancangan rumah yang diberikan sahabatnya, Anton. Ia lihat betapa begusnya gambar yang dibuat oleh sahabatnya itu. Ia bayangkan jika rumahnya seperti itu, rasakan betapa sejuknya tinggal didalmnya. Sirkulasi udaranya yang dirancang khusus, disain ruangan yang juga tak kalah menarik, sepertinya semakin menguatkan pikiran ayah. Perang kayu lapuk sepertinya siap dilayani dengan baik, bak elang bersua dengan tikus, tampa pikir panjang si elang tak kan menyianyia kan tikus yang dihadapanya, siap menerkam seperti para guardians.
Ayah lain cantik mainnya, ia tetap bangun rumah itu sesuai rencana, tak hiraukan masalah umur kayu lapuk yang jauh jauh lebih tua darinya. Pandangan akan kenyaman dari rumah itu yang mengokohkan semangat ayah, semangat 45 kiranya yang berkobar didada. Hematnya, gambar sahabatnya itulah yang paling berpengaruh dalam peperangan ini, hingga ia lupa akan kalimat nenek yang bak panah itu.
"Ah masa bodoh" guman ayah menapik pikiran kayu lapuk.
___________________________________________________________________________________
Nenek duduk santai didepan rumah yang ditemani segelah teh hangat. Bisa aku tebak dari kejauhan teh yang didalam gelas itu, teh kerinci. Dari warnanya saja kelihatan betapa pekatnya teh itu, teh kerinci yang diramu oleh nenek sendiri. Biasa, nenek ku adalah orang yang hidup sebelum masa perang dengan japan, jadi ia terbiasa dengan meracik teh, menumbuk kopi, dan meramu obat herbal. Skil individu yang jarang dimiliki orang.
Terlihat anggun senyum nenek dari seberang jalan. Kulit tuanya yang berkerut juga tersenyum, begitu juga tatapannya, tatapan yang menyapa cahaya matahari. Sangat semangat ia tampak, menarik untuk aku amati manusia tua dengan semangat itu. Perlahan aku berjalan ke arah nenek, hingga terlihat jelas bulatan hitam matanya, dan cukuplah dekat sekarang jarak ku untuk memulai sebuah percakapan. Tak diduga, lidah tua itu bercakap lebih dulu
"Bujang, apa yang mau dibicarakan ?"
Tersentak aku dibuat oleh kalimat dari nenek, seolah-olah maksud dan tujuan ku sudah diketahui, dan satu hal yang pasti, aku juga tak tahu jurus apa yang digunakan nenek kali ini. Aku mencoba tersenyum kepadanya, berharap otak ajaibnya tertekuk oleh sesungging senyum kecil yang ku berikan. Aku tatap nenek dengan mata sayu anak muda, mata sepertiga kali dibawah usia matanya. Dengan gugup aku lontarkan kalimat-kalimat balasan.
“Ayah nek, kelihatan gugup beberapa hari ini, sepertinya ia bimbang untuk mempercantik rumah ni, tak lain dan tak bukan ini karena kata-kata nenek kemaren. Bisa-bisa jadi sesat lah pikirannya, lalu ia bakar rumah ni. Apa lah susahnya membakar rumah kayu tua ini, setelah semua jadi debu, baru bisa nenek lihat tiang-tiang beton yang tertancap ketanah lima meter dalamnya. Tercenganglah nanti jika melihatnya.”
Nenek malah tertawa tersendak-sendak setalah satu kalimat itu terlontar. Paru-parunya seakan marah, tak kuat lagi menghela nafas untuk tawa yang cekikan nenek. Maklum, paru tua itupun juga sudah dekat masa habis pakainya. Tak henti-henti ia tawa cekikan. Pusing pula aku melihat tingkahnya. Sudah tua dan reot begitu, namun lengkingan semangat tawanya tak kalah dengan anak muda usia belasan tahun. Entah nikmat apa yang diberika tuhan padanya. Dan banyak hal lainnya yang digrutu otak ku karna tawa itu.
“Ah nenek, tawanya cekikan. Sadar umur nek, malu dilihat tetangga. Kucing aja tertegun di depan pintu dibuatnya.” Gerutu otak ku yang langsung disampaikan pesannya oleh mulut lewat saraf motorik. Tampa perantara, spontan kalimat itu meluncur. Nenek tampak berusaha menahan mulutnya tidak terbuka, agar ia tak tertawa. Itu terlihat dari mimik wajahnya yang tambah berkerut. Entah apa lagi yang lucu, hingga ia cengengesan seperti itu. Memang susah ditebak otak si nenek.
“Ah bujang, jangan kau pikirkan kalimat itu. Ini urusan orang tua, urus aja urusan kau. Paling tidak ayah kau mengerti bujang, bahwa umur kayu rumah ini jauh lebih tua dari padanya” Seperti rahasia saja lah kayu lapuk rumah ini. Tambah tidak mengerti aku dibuatnya. Menimbang-nimbang apa yang dikatakan nenek, ada benarnya juga. Tidak ada urusan kayu lapuk ini dengan aku. Minimbang kapasitas ku juga hanya seorang cucu baginya, tidak ada hak untuk mengatur, memberi saranpun tak berhak kiranya.
Tak ingin berkecamuk dengan urusan kayu lapuk, aku mulai tinggalkan rumah reot itu. Pergi hilir mudik mengejar angin, mencari kepandaian. Berulam pagi aku beranjak dari rumah, dan kembali menjelang ufuk merah hilang ditelan kegelapan dan ini berulang hari ke hari. Shubuh menjamu mesjid dan pastinya shalat yang lain juga tak akan ketinggalan. Siang menjelang petang bermalas-malasan di pondok kecil kebun ayah. Pondok yang dibawahnya kandang ayam. Ada puluhan ekor kiranya. 4 ekor sedang bertelur, tidak ada riuh cietnya terdengar. 2 ekor sedang mengerami telur, dan sangat waspada ia. Tak satu pun yang boleh mendekat, termasuk beberapa sepupunya. Beberapa yang lainnya yang hiruk pikuk, penjantan tua yang bermalasan dan penjantan kecil yang belum elok kokoknya menambah hiruk tumpukan ayam itu.
Senja menajadi waktu nan paling elok kiranya bagi ku. Bersepeda mengitari pasar yang dikelilingi kali-kali yang airnya kian bertambah, maklum saja kini musim hujan lagi berseminya. Melihat ribuan walet yang kian menghitamkan langit senja bersiap pulang kerumah megah nan besar. Bahkan rumah walet itu lebih gagah dari rumah reot milik nenek ku. Itulahyang bisa kubandingkan. Kepulan asab barayun-rayun di atas jalan beraspal. Tak salah lagi, itu asap dari ratusan kandang ternak sapi milik warga. Kandang sapi dihidupkan perapian guna untuk kenyamanan si sapi. Si nyamuk, Si lalat dan serangga antah berantah lainnya akan menghindar dai perapian itu, sehingga si sapipun bisa tidur nyenyak.
Rentang waktu terus berjalan dan akan begitu walau dunia ini telah kiamat. Waktu disini kian laju rasanya jika dijalankan dengan bersepeda santai di sepanjang jalan nan mampu ku kayuh, mendengar hiruk pikuk ayam nan bertingkah di bawah pondok di kebun ayah, dan ciat-ciuk burung walet di tepian senja, mereka bermain sejenak sebelum mamasuki rumah nan besar itu, lebih besar dari rumah reot nenek.
Sudah 2 minggu kegiatan ini berulang, tiba-tiba ketika kembali disenja itu tampak 2 orang dengan sesungging senyum menatap ku. Mereka duduk di kursi tamu rumah nenek. Setelah tatap-menatap antara senyum dan mata, aku hampiri mereka. Ternyata dua orang yang duduk disitu adalah orang tua sahabat karib ku Amin dan Ahsan. Mereka berprofesi sebagai kuli bangunan. Aku faham maksud ayah mengundang mereka datang kerumah. Jalas lah ia akan memulai membongkar kayu lapuk, dan yang lebih jelasnya lagi, waktu kayu lapuk itupun sudah dekat, mungkin sekarang atau beberapa hari setelah malam ini.
Senja itu sudah terlalu larut, bergeming dengan hanya cerita-cerita singkat, aku dan ayah, aku dan ibu dan dengan mamak ku yang tinggal serumah. Hingga malam benar-banar hening, semua tertidur lelap begitupun jua aku yang berenacana bergadang malam ini juga terlelap di sofa ruang tamu sambil nonton TV. Hingga aku bermimpi di sofa itu.
Pagi hari aku terbangun, sebab terjangan tajam sinar matahari menerpa mata lewat selah-selah kosen pintu dan jendela, memaksa aku terbangun. Tidak hanya aku yang tersengat, kayu dan lantai rumahpun juga. Masih pudar pandangan namun kaki talah aku langkahkan, tampak sabur dua orang sedang berada diruang tengah, aku melangkah perlahan mendekat, ternyata dua orang itu sedang merubuhkan atap dan menbongkar perlahan dinding-dinding kayu. Kaki melangkah lagi menuju dapur, dan disini lebih banyak lagi. Lima orang membongkar habis semuanya, bahkan tiang kayu nan besar didapur juga dirubuhkan dan dikeping kecil-kecil untuk di jadikan kayu bakar. Melihat pembongkaran ini, aku teringat dengan nenek. Aku bayangkan hatinya pasti akan terkeruk jua seperti kayu-kayu ini. Disela lamunan itu aku tersadar dan tersandar disudut ruangan kedinding kayu dapur yang belum sempat dibongkar melihat dua orang yang sangat ku kenal, ayah dan nenek. Mereka duduk disudut ruangan yang berhadapan dengan ku, sambil bercakap-cakap dan senyum keduanya tampak manis besarta jua kopi yang menemani. Pikiran ku semakin melayang kenapa dua orang yang kemarin sore masih bersipak terjang pendapat, saling serang dan menangkis kata-kata sekarang menjadi sekutu nan sangat elok. Perlahan aku berjalan mendekati mereka hingga tampak jelas bola hitam mata keduanya.
“Elok nian lah jika begini, dan aneh jua nampaknya. Kemarin saling mencela dan sekarang ber iya-iya. Ada apa sebenarnya, ada yang bisa menjelaskan” Ucapku dengan heran kepada mereka. Nenek menatap ku. Ia angkat segelas kopi lalu direguknya dan memposisikan kembali cangkir kopi itu dimeja.
“Siapa yang kau maksud ni, kalau kau sangka orangnya adalah aku dan ayahmu, salah besar lah kau bujang” mengerutulah aku setelah kalimat ini tercacah ditelinga. Jelas-jelas mereka bersepak terjang kata didepan ku, sekarang malah seoalah-olah mungkir dan tak tau bahwa itu pernah terjadi.
“kemarin hari kau bersipak terjang kata, sekarang kau mungkir pula dengan kata nan elok. Macan apa lah ini” kalimat sedikit ligat terucap oleh mulut, sebab aku mulai jengkel dengan kalimat nenek sebelumnya.
“Itu cakap bukanlah buruk bujang. Aku dan ayahmu elok-elok saja. Tanya lah ke ayahmu jika tak percaya. Lain orang lain bawaan bujang. Kadang terlihat keras oleh kau sebuah kalimat, namun oleh sebagian orang barulah sekedar bercanda. Tak kah kau mengerti bujang, kalimat itu dan gaya bicaranya itu punya ku. Gaya ku bicara sama ayah mu. Sama orang lain, lain pula lah gaya ku. Tak sembrono aku menempatkan kata bujang” Segelintir tawa nenek juga mengikuti kalimat ini. Tertawa karena aku bodoh yang tidak bisa memahami kalimat-kalimatnya yang kemarin atau karena hal lain.
“kenapa kau ini bujang, kalimat kemarin masih kau permasalahkan. Mungkin kau lihat aku bermenung diri seperti berpikir keras, namun itu bukan karena kayu lapuk ini bujang, tapi karena aku belum punya cukup uang untuk mempercantik rumah ini. Lagi pula aku tak melanggar kata-kata nenek mu. Kalau tonggak nan ditengah ini aku keping-keping dan dijadikan kayu bakar wajar sajalah, umur tonggak ini tak lebih tua dari ku. Kalau kayu dinding tak ada aku apa-apakan. Hanya dipindahkan bujang. Kau lihat bujang aku menghormati kayu-kayu ini, yang kata nenek mu lebih tua dari ku. Tapi tak pa, akan ku jadikan kayu tua ini rumah sapi betina untuk kau bujang. Biar ada lah kerja kau, mengurus sapi tak pula susah-susah kali.” Ayah benar-benar melontarkan kalimat yang mendukung pendapat sekutunya, nenek.
Aku melangkah menjauh dari tempak mereka duduk, ditambah keheranan yang cukup akan kalimat-kalimat itu. Bertambah satu lagilah pikiran ku, yaitu tentang kata-kata nenek tadi. Mungkin akan ketanyakan keguru bahasa indonesia kelak tentang kalimat-kalimat nenek yang tidak aku pahami. Mungkin terkandung majas didalamnya yang sulit aku cerna dan hal-hal laingnya yang tidak aku ketahui. Banyak kemungkinan tentang kalimat itu, bisa jadi nenek ku yang sudah gila atau aku yang tidak waras lagi, berkata seperti orang nan memcela namun ia tak bermaksud tak mencela. Ah pusing lah aku jika memikirkannya terus, banyak lah hal laing yang lebih menarik. Kembali aku teringat dengan sepeda santai dan duduk bermenung di pondok kebun ayah. Ligat aku mandi dan beraktifitas seperti hari-hari biasa, dengan memendam kalimat-kalimat yang belum aku pahami dan jua sapi betina untuk ku, akan ku apakan sapi itu kelak.
Begitu aku gambarkan kampung halaman, latar kehidupan masa kecil, tempat tertawa 19 tahun yang lalu. Sangat indah menyaksikan asrinya, menghilangkan sesak sejenak. Aku sudah berada 2 hari disini, kampung halaman yang menyimpan semua kenangan indah, saksi perjalanan hidup, dari kakek buyut terus berlanjut ke generasi ku dan pasti akan berjalan kegenerasi setelah aku nanti. Termasuk rumah besar yang renta, kian reot hari ke hari ini, tempat kelaurga Abu Nazar berteduh. Abu Nazar adalah kakek ku, dan bisa dibilang ini adalah rumah ku sekarang. Ia yang memdirikan rumah megah ini dahulunya, tapi kini tak lagi, sudah ada gaya menimalis disisi kiri dan kanannya, menjadikan rumah ini semakin kusam, bukan klasic tapi sudah benar-benar usang. Kalau clasic masih bisa di bilang unik, tapi rumah ini tiang-tiang penyanganya sudah keropos, lantainya yang terbuat dari kayu sudah di jilati rayap tiap-tiap ruas. lantainya berderik walau anak 2 tahun merangkak di atasnya, apa lagi aku, dengan bobot 80 kg, beberapa kali lebih berat dari anak yang baru bisa merangkak, bisa-bisa ambruk. Sehingga clasic menjadi terpinggirkan dan digantian oleh kata usang, atau mungkin bisa dibilang clasic tapi sudah usang. Namun kedengarannya tak wajar. Kalau usang ya usang aja tidak usah pakai klasic segala.
Sekarang sebuah rencana menjadi musuh besar kayu-kayu lapuk rumah ini. Bagaimana tidak, ayahku ingin merehabilitasi rumah besar ini. Rumah yang semula 2 tingkat, akan dipotong atasnya, menjadi satu tingkat. Panjangnya pun di perpendek, menjadi setengah kali panjang semula. Sepertinya ayah menjadi diktator yang siap memangsa kayu lapuk ini. Mungkin si kayu merasa jengkel terhadap rencana ayah. kejengkelan sikayu berbuah manis, tiba-tiba nenek ku menolak mentah-mentah rencana ayah. Nenek berguman, bahwa gaya dari rumah ini harus dipertahankan. Dan lebih parahnya lagi, nenek melontarkan kalimat dari negeri antah berantah di otaknya, dan ini tidak pertama kalinya nenek selisih paham dengan ayah.
"kayu ni sudah jauh lebih tua dari pada kau. Hormati yang lebih tua, jangan dulukan ego. Sering kali lah aku menegur kau. Elok-elok lah tingkah laku, dan jangan kau anggap aku pikun. Badan boleh lah tampak tua, pikiran tak lah. Pikiran tetep dewasa”
Lagi-lagi si nenek memulai petaka. Punya gaya sendiri lah mereka jika telah begini situasinya. Lihat kalimat sakti itu. Kalimat yang cerdik untuk memulai petaka.Kalimat sakti yang membuat ayah tak bisa berguming, diam terpaku. Seperti kalimat itu menjadi jeruji besi empat persegi disekelilingnya, lalu jeruji ini mengecil dan mendesak pikiran ayah, mencekik, menyebabkan ayah hilang kata-kata. Tiba-tiba nenek kembali menyelipkan sepatah kalimat, lagi-lagi bernuansa tajam.
"Kalau kau mau cantik kan rumah ni, gunakan cara ku. Perhatikan apa mertua mu ini suka apa ndak. Kalau aku tak suka hasil kerja mu, rugi kali kau kerja. Akan ku rubuhkan lagi rumah ni. Jadi hati-hati lah dalam merubah kayu tua ini, jadikan ia tampak menarik bagi ku".
Setelah kata itu melayang, nenek pergi. Kata-kata membungkam hati, bak anak panah yang tapat dilesatkan ke jantung ayah.
Ayah mulai berkompromi dengan otaknya, mengolah kalimat yang dilesatkan nenek mengenai kayu lapuk. Satu persatu kata yang meyusun kalimat tadi mulai di pelitelir. Di analisa berbasih tinggi, setinggi kemampuan ayah. Keningnya berkerut, sudah pasti saraf-saraf orak ayah mencoba bersinergi dengan saraf-saraf yang lain untuk memecahkan kede-kode, namum kalimat yang bermuara kayu lapuk tadi tak kunjung di percahkan. Hilang nian juga tidak akal si ayah. Namum gaya nenek yang seperti itu memang jarang tampak. Baru kali ini lah sekiranya aku melihat kalimat semacam itu. Wajarlah kalimat itu bak anak panah yang melesat ke jantung.
Dua hari sudah pertarungan dengan judul perang kayu lapuk, namun kerutan kening ayah tak jua hilang. Sepertinya ia kehabisan akal, untuk mengsiasati si nenek. Maklum, semua bahan untuk merehabilatasi rumah sudah disiapkan ayah. Tidak hanya bahan, rancangan rumah sudah dilukis, dilukis oleh seorang temannya, Anton. Anton adalah seorang insinyur, tamatan terbaik jurusan teknik sipil universitas andalas. Gambar rancangan rumah tersebut tentu sangat bernilai, didapat dari darah persahabatan, tidak bisa diukur dengan uang, atau apa saja lah.
Seketika, ayah teringat dengan gambar rancangan rumah yang diberikan sahabatnya, Anton. Ia lihat betapa begusnya gambar yang dibuat oleh sahabatnya itu. Ia bayangkan jika rumahnya seperti itu, rasakan betapa sejuknya tinggal didalmnya. Sirkulasi udaranya yang dirancang khusus, disain ruangan yang juga tak kalah menarik, sepertinya semakin menguatkan pikiran ayah. Perang kayu lapuk sepertinya siap dilayani dengan baik, bak elang bersua dengan tikus, tampa pikir panjang si elang tak kan menyianyia kan tikus yang dihadapanya, siap menerkam seperti para guardians.
Ayah lain cantik mainnya, ia tetap bangun rumah itu sesuai rencana, tak hiraukan masalah umur kayu lapuk yang jauh jauh lebih tua darinya. Pandangan akan kenyaman dari rumah itu yang mengokohkan semangat ayah, semangat 45 kiranya yang berkobar didada. Hematnya, gambar sahabatnya itulah yang paling berpengaruh dalam peperangan ini, hingga ia lupa akan kalimat nenek yang bak panah itu.
"Ah masa bodoh" guman ayah menapik pikiran kayu lapuk.
___________________________________________________________________________________
Nenek duduk santai didepan rumah yang ditemani segelah teh hangat. Bisa aku tebak dari kejauhan teh yang didalam gelas itu, teh kerinci. Dari warnanya saja kelihatan betapa pekatnya teh itu, teh kerinci yang diramu oleh nenek sendiri. Biasa, nenek ku adalah orang yang hidup sebelum masa perang dengan japan, jadi ia terbiasa dengan meracik teh, menumbuk kopi, dan meramu obat herbal. Skil individu yang jarang dimiliki orang.
Terlihat anggun senyum nenek dari seberang jalan. Kulit tuanya yang berkerut juga tersenyum, begitu juga tatapannya, tatapan yang menyapa cahaya matahari. Sangat semangat ia tampak, menarik untuk aku amati manusia tua dengan semangat itu. Perlahan aku berjalan ke arah nenek, hingga terlihat jelas bulatan hitam matanya, dan cukuplah dekat sekarang jarak ku untuk memulai sebuah percakapan. Tak diduga, lidah tua itu bercakap lebih dulu
"Bujang, apa yang mau dibicarakan ?"
Tersentak aku dibuat oleh kalimat dari nenek, seolah-olah maksud dan tujuan ku sudah diketahui, dan satu hal yang pasti, aku juga tak tahu jurus apa yang digunakan nenek kali ini. Aku mencoba tersenyum kepadanya, berharap otak ajaibnya tertekuk oleh sesungging senyum kecil yang ku berikan. Aku tatap nenek dengan mata sayu anak muda, mata sepertiga kali dibawah usia matanya. Dengan gugup aku lontarkan kalimat-kalimat balasan.
“Ayah nek, kelihatan gugup beberapa hari ini, sepertinya ia bimbang untuk mempercantik rumah ni, tak lain dan tak bukan ini karena kata-kata nenek kemaren. Bisa-bisa jadi sesat lah pikirannya, lalu ia bakar rumah ni. Apa lah susahnya membakar rumah kayu tua ini, setelah semua jadi debu, baru bisa nenek lihat tiang-tiang beton yang tertancap ketanah lima meter dalamnya. Tercenganglah nanti jika melihatnya.”
Nenek malah tertawa tersendak-sendak setalah satu kalimat itu terlontar. Paru-parunya seakan marah, tak kuat lagi menghela nafas untuk tawa yang cekikan nenek. Maklum, paru tua itupun juga sudah dekat masa habis pakainya. Tak henti-henti ia tawa cekikan. Pusing pula aku melihat tingkahnya. Sudah tua dan reot begitu, namun lengkingan semangat tawanya tak kalah dengan anak muda usia belasan tahun. Entah nikmat apa yang diberika tuhan padanya. Dan banyak hal lainnya yang digrutu otak ku karna tawa itu.
“Ah nenek, tawanya cekikan. Sadar umur nek, malu dilihat tetangga. Kucing aja tertegun di depan pintu dibuatnya.” Gerutu otak ku yang langsung disampaikan pesannya oleh mulut lewat saraf motorik. Tampa perantara, spontan kalimat itu meluncur. Nenek tampak berusaha menahan mulutnya tidak terbuka, agar ia tak tertawa. Itu terlihat dari mimik wajahnya yang tambah berkerut. Entah apa lagi yang lucu, hingga ia cengengesan seperti itu. Memang susah ditebak otak si nenek.
“Ah bujang, jangan kau pikirkan kalimat itu. Ini urusan orang tua, urus aja urusan kau. Paling tidak ayah kau mengerti bujang, bahwa umur kayu rumah ini jauh lebih tua dari padanya” Seperti rahasia saja lah kayu lapuk rumah ini. Tambah tidak mengerti aku dibuatnya. Menimbang-nimbang apa yang dikatakan nenek, ada benarnya juga. Tidak ada urusan kayu lapuk ini dengan aku. Minimbang kapasitas ku juga hanya seorang cucu baginya, tidak ada hak untuk mengatur, memberi saranpun tak berhak kiranya.
Tak ingin berkecamuk dengan urusan kayu lapuk, aku mulai tinggalkan rumah reot itu. Pergi hilir mudik mengejar angin, mencari kepandaian. Berulam pagi aku beranjak dari rumah, dan kembali menjelang ufuk merah hilang ditelan kegelapan dan ini berulang hari ke hari. Shubuh menjamu mesjid dan pastinya shalat yang lain juga tak akan ketinggalan. Siang menjelang petang bermalas-malasan di pondok kecil kebun ayah. Pondok yang dibawahnya kandang ayam. Ada puluhan ekor kiranya. 4 ekor sedang bertelur, tidak ada riuh cietnya terdengar. 2 ekor sedang mengerami telur, dan sangat waspada ia. Tak satu pun yang boleh mendekat, termasuk beberapa sepupunya. Beberapa yang lainnya yang hiruk pikuk, penjantan tua yang bermalasan dan penjantan kecil yang belum elok kokoknya menambah hiruk tumpukan ayam itu.
Senja menajadi waktu nan paling elok kiranya bagi ku. Bersepeda mengitari pasar yang dikelilingi kali-kali yang airnya kian bertambah, maklum saja kini musim hujan lagi berseminya. Melihat ribuan walet yang kian menghitamkan langit senja bersiap pulang kerumah megah nan besar. Bahkan rumah walet itu lebih gagah dari rumah reot milik nenek ku. Itulahyang bisa kubandingkan. Kepulan asab barayun-rayun di atas jalan beraspal. Tak salah lagi, itu asap dari ratusan kandang ternak sapi milik warga. Kandang sapi dihidupkan perapian guna untuk kenyamanan si sapi. Si nyamuk, Si lalat dan serangga antah berantah lainnya akan menghindar dai perapian itu, sehingga si sapipun bisa tidur nyenyak.
Rentang waktu terus berjalan dan akan begitu walau dunia ini telah kiamat. Waktu disini kian laju rasanya jika dijalankan dengan bersepeda santai di sepanjang jalan nan mampu ku kayuh, mendengar hiruk pikuk ayam nan bertingkah di bawah pondok di kebun ayah, dan ciat-ciuk burung walet di tepian senja, mereka bermain sejenak sebelum mamasuki rumah nan besar itu, lebih besar dari rumah reot nenek.
Sudah 2 minggu kegiatan ini berulang, tiba-tiba ketika kembali disenja itu tampak 2 orang dengan sesungging senyum menatap ku. Mereka duduk di kursi tamu rumah nenek. Setelah tatap-menatap antara senyum dan mata, aku hampiri mereka. Ternyata dua orang yang duduk disitu adalah orang tua sahabat karib ku Amin dan Ahsan. Mereka berprofesi sebagai kuli bangunan. Aku faham maksud ayah mengundang mereka datang kerumah. Jalas lah ia akan memulai membongkar kayu lapuk, dan yang lebih jelasnya lagi, waktu kayu lapuk itupun sudah dekat, mungkin sekarang atau beberapa hari setelah malam ini.
Senja itu sudah terlalu larut, bergeming dengan hanya cerita-cerita singkat, aku dan ayah, aku dan ibu dan dengan mamak ku yang tinggal serumah. Hingga malam benar-banar hening, semua tertidur lelap begitupun jua aku yang berenacana bergadang malam ini juga terlelap di sofa ruang tamu sambil nonton TV. Hingga aku bermimpi di sofa itu.
Pagi hari aku terbangun, sebab terjangan tajam sinar matahari menerpa mata lewat selah-selah kosen pintu dan jendela, memaksa aku terbangun. Tidak hanya aku yang tersengat, kayu dan lantai rumahpun juga. Masih pudar pandangan namun kaki talah aku langkahkan, tampak sabur dua orang sedang berada diruang tengah, aku melangkah perlahan mendekat, ternyata dua orang itu sedang merubuhkan atap dan menbongkar perlahan dinding-dinding kayu. Kaki melangkah lagi menuju dapur, dan disini lebih banyak lagi. Lima orang membongkar habis semuanya, bahkan tiang kayu nan besar didapur juga dirubuhkan dan dikeping kecil-kecil untuk di jadikan kayu bakar. Melihat pembongkaran ini, aku teringat dengan nenek. Aku bayangkan hatinya pasti akan terkeruk jua seperti kayu-kayu ini. Disela lamunan itu aku tersadar dan tersandar disudut ruangan kedinding kayu dapur yang belum sempat dibongkar melihat dua orang yang sangat ku kenal, ayah dan nenek. Mereka duduk disudut ruangan yang berhadapan dengan ku, sambil bercakap-cakap dan senyum keduanya tampak manis besarta jua kopi yang menemani. Pikiran ku semakin melayang kenapa dua orang yang kemarin sore masih bersipak terjang pendapat, saling serang dan menangkis kata-kata sekarang menjadi sekutu nan sangat elok. Perlahan aku berjalan mendekati mereka hingga tampak jelas bola hitam mata keduanya.
“Elok nian lah jika begini, dan aneh jua nampaknya. Kemarin saling mencela dan sekarang ber iya-iya. Ada apa sebenarnya, ada yang bisa menjelaskan” Ucapku dengan heran kepada mereka. Nenek menatap ku. Ia angkat segelas kopi lalu direguknya dan memposisikan kembali cangkir kopi itu dimeja.
“Siapa yang kau maksud ni, kalau kau sangka orangnya adalah aku dan ayahmu, salah besar lah kau bujang” mengerutulah aku setelah kalimat ini tercacah ditelinga. Jelas-jelas mereka bersepak terjang kata didepan ku, sekarang malah seoalah-olah mungkir dan tak tau bahwa itu pernah terjadi.
“kemarin hari kau bersipak terjang kata, sekarang kau mungkir pula dengan kata nan elok. Macan apa lah ini” kalimat sedikit ligat terucap oleh mulut, sebab aku mulai jengkel dengan kalimat nenek sebelumnya.
“Itu cakap bukanlah buruk bujang. Aku dan ayahmu elok-elok saja. Tanya lah ke ayahmu jika tak percaya. Lain orang lain bawaan bujang. Kadang terlihat keras oleh kau sebuah kalimat, namun oleh sebagian orang barulah sekedar bercanda. Tak kah kau mengerti bujang, kalimat itu dan gaya bicaranya itu punya ku. Gaya ku bicara sama ayah mu. Sama orang lain, lain pula lah gaya ku. Tak sembrono aku menempatkan kata bujang” Segelintir tawa nenek juga mengikuti kalimat ini. Tertawa karena aku bodoh yang tidak bisa memahami kalimat-kalimatnya yang kemarin atau karena hal lain.
“kenapa kau ini bujang, kalimat kemarin masih kau permasalahkan. Mungkin kau lihat aku bermenung diri seperti berpikir keras, namun itu bukan karena kayu lapuk ini bujang, tapi karena aku belum punya cukup uang untuk mempercantik rumah ini. Lagi pula aku tak melanggar kata-kata nenek mu. Kalau tonggak nan ditengah ini aku keping-keping dan dijadikan kayu bakar wajar sajalah, umur tonggak ini tak lebih tua dari ku. Kalau kayu dinding tak ada aku apa-apakan. Hanya dipindahkan bujang. Kau lihat bujang aku menghormati kayu-kayu ini, yang kata nenek mu lebih tua dari ku. Tapi tak pa, akan ku jadikan kayu tua ini rumah sapi betina untuk kau bujang. Biar ada lah kerja kau, mengurus sapi tak pula susah-susah kali.” Ayah benar-benar melontarkan kalimat yang mendukung pendapat sekutunya, nenek.
Aku melangkah menjauh dari tempak mereka duduk, ditambah keheranan yang cukup akan kalimat-kalimat itu. Bertambah satu lagilah pikiran ku, yaitu tentang kata-kata nenek tadi. Mungkin akan ketanyakan keguru bahasa indonesia kelak tentang kalimat-kalimat nenek yang tidak aku pahami. Mungkin terkandung majas didalamnya yang sulit aku cerna dan hal-hal laingnya yang tidak aku ketahui. Banyak kemungkinan tentang kalimat itu, bisa jadi nenek ku yang sudah gila atau aku yang tidak waras lagi, berkata seperti orang nan memcela namun ia tak bermaksud tak mencela. Ah pusing lah aku jika memikirkannya terus, banyak lah hal laing yang lebih menarik. Kembali aku teringat dengan sepeda santai dan duduk bermenung di pondok kebun ayah. Ligat aku mandi dan beraktifitas seperti hari-hari biasa, dengan memendam kalimat-kalimat yang belum aku pahami dan jua sapi betina untuk ku, akan ku apakan sapi itu kelak.
mantap gan...
BalasHapusihs, kata kata nya ajib, ajarin dong:D hehe
BalasHapusBalas